Kamis, 26 Agustus 2010

Graduation


Ng...bukannya tidak bersyukur...tp rasanya tidak tepat saja.

Melihat wajah bapak yang semakin menua....
Senyum ibu yang seharusnya ada...

Teman-teman yang belum bisa tersenyum bersama dalam jubah hitam besar itu...
Dua tahun yang masih akan menggelayut di pundak...

don't make me feel any better.

Selasa, 03 Agustus 2010

"Seandainya saja....

....
kubisa katakan jangan kau tinggalkan,
saat ini ku ragu
bisakah ku nikmati semua tanpamu"

Dia tidak meninggalkanku, tentu saja (kami memang sudah jauh), tapi dia akan pergi.

Betapa aku merasa bahagia untuknya. Sungguh. Ini adalah impiannya, satu dari sekian banyak impiannya, lelakiku yang pemimpi itu. Aku bahkan sudah bisa melihat kota itu seperti memeluknya. Dia akan melangkah, dan berpetualang di setiap sudutnya, belajar banyak hal, mengamati banyak hal, memimpikan banyak hal dalam imajinasinya yang tanpa batas. Oohhh....dia akan lebih dari baik-baik saja. Dia akan bahagia.

Tapi tetap saja....
Kerinduanku seperti bisa kusentuh sekarang. Kerinduan seperti ada dalam dadaku sekaligus menyelubungiku. Sesak.

Tidak bisa lagi kuselipkan namanya di antara kata "pulang" dan "rumah".

Jumat, 02 Juli 2010

Am I a part of the cure, or am I a part of the disease...?


Aku membenci Rumah Sakit sepanjang ingatanku. Terutama rumah sakit umum besar.
Banyak sekali orang. Orang-orang berseliweran memenuhi koridor dan ruang tunggu. Orang sakit dan orang sehat kelihatan sama saja. Mereka di mana-mana. Malam-malam, mereka akan mengisi bangku-bangku kosong di depan apotek atau bahkan koridor dengan beralas koran. Seolah mereka sedang piknik.

Mereka yang berjas putih juga dimana-mana. Berjalan ke sana kemari seolah benar-benar penting. Ah...mungkin mereka memang penting.

Suara-suara yang diperkeras dengan pengeras suara berkualitas jelek terus saja terdengar, memanggil nama-nama mereka yang menunggu di kursi kayu keras. Menebus resep askes, gakin, atau jamkesmas (bisakah kau tebak kepanjangan tiga kata terakhir?).

Belum lagi baunya. Bisa kucium segala bebauan busuk itu. Seolah tempat itu diselimuti atmosfer sendiri yang benar-benar bau. Bau desinfektan hanya memperburuk itu semua. Bau apalagi yang kau harapkan jika tempat itu dipenuhi keputusasaan dan kepedihan? (dan penyakit yang ada dimana-mana sampai seolah-olah kau bisa melihat kuman-kuman beterbangan di udara).

Pernahkah kau menginjakkan kaki di ruang rekam medik? Oh....di sana lebih parah lagi. Barisan rak setinggi langit-langit berisi berkas-berkas semua orang yang katanya rahasia. Tidak ada kehidupan di sana. Tapi di sanalah aku. Menulis ini semua setelah lelah membuka dan membuka kembali semua berkas, tidak peduli yang punya berkas sudah sembuh atau sudah mati. Menyadari bahwa cepat atau lambat aku akan berakhir menjadi seorang di antara mereka yang berjas putih itu.

Not sure if we were a part of the cure of a part of the disease.

Senin, 21 Juni 2010

Memangnya aku siapa?

Bila besok aku lenyap. Semua akan panik. Menelepon berkali-kali. Menelepon Bapak dan saudara-saudaraku. Mungkin memanggil polisi. Tapi tidak akan lama. Mereka akan baik-baik saja. Seperti luka yang mengerut, sembuh bahkan tanpa bekas sedikitpun. Melupakanku.

Sabtu, 19 Juni 2010

Don't let one mistake keep us apart.



..........


"A room is still a room
Even when there's nothing there but gloom
But a room is not a house and a house is not a home
When the two of us are far apart
And one of us has a broken heart"

...........

(or the two of us has a broken heart)

T__T


*saat kamar tidak lagi jadi tempat bersembunyi dan menenangkan hati :(

Rabu, 16 Juni 2010

Cuma fiksi kali ini

Olivia

Satu-satu air hujan jatuh menerpa kulitku. Aku memejamkan mata. Merasakan sejuknya, dinginnya. Seolah semua saraf di kulitku serentak menyiapkan diri untuk menerimanya. Setiap tetes.

Kamu yang selalu mengeluhkan dinginnya udara ketika musim hujan, tidak tahu ini: hujan benar-benar menenangkan. Kamu hanya tidak pernah tinggal cukup lama untuk bisa merasakannnya. Sedangkan aku….aku sudah tahu itu sejak lama. Jadi aku tidak pernah melewatkan hujan seperti ini. Terutama ketika aku benar-benar membutuhkannya seperti saat ini.

Aku mulai melangkah. Sudah hampir jam sepuluh malam dan kota kecil ini sudah hampir mati. Sekolah ini dan rumahku berada di sisi kota yang berlawanan. Tapi sekali lagi, ini hanya kota kecil, jadi itu bukan jarak yang jauh. Lagi pula aku ingin merasakan lelahnya. Merasakan satu kaki menjejak di tanah, sementara kaki yang lain terangkat dan terayun ke depan lalu menapak lagi di tanah. One step done!

Kupusatkan perhatianku pada bunyi hujan. Pada gelapnya malam. Pada jalan yang basah di bawah kakiku. Setiap jengkal. Hanya agar aku tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tapi tetap saja…..

“Aku akan pindah sekolah.”

“Besok.” Sambungku ketika tidak ada yang menanggapi pengumumanku.

“Tapi kita udah kelas tiga, Liv.” Aninda protes. Aku sudah menduga dia akan mengatakan itu.

“Justru itu. Aku pengen ikutan bimbingan belajar di sana. Di sini ga ada. Aku harus lulus. Aku harus kuliah.”

“Hh…don’t make any excuses! Kaya kami ga pengen lulus aja.” Akhirnya Danisha bersuara. “Kamu ga pernah merasa cukup kan, Vi?” ada senyum sinis di wajahnya.

Aku mulai merasa ada yang salah. Ini bukan skenario yang ada di kepalaku tentang saat “perpisahan mendadak” ini.

“Yah…aku kira memang tinggal tunggu waktu aja sebelum kita semua ga saling peduli lagi. Kan kamu yang duluan Dan!” itu Anin yang bicara.

Danisha menarik nafas sebelum mulai menjawab. “Jadi udah jelas kan? Sekalian aja kita pura-pura ga saling kenal lagi. Beres.” Dia bangkit, lalu berkata “Aku udah harus pulang”

Danish mulai melangkah pergi. Aku panik. Aku berusaha keras memasukkan udara ke paru-paruku. Sampai aku bisa berkata, agak lebih keras dari yang aku inginkan,

“Tapi kita harus ketemu lagi. Untuk membuktikan kalau ini semua worth it. Lima tahun? Sepuluh tahun?”

“Aku akan ingat.” Sahut Danish tanpa menoleh. Apa yang disetujuinya? Lima, sepuluh? Apa?

“Good luck Vi!”

Tinggal aku dan Anin. Sesaat mata kami bertemu. Dia membuang muka dan berdiri. Aku memperhatikannya melangkah pergi. Tapi kemudian dia berhenti dan menoleh.

“Sebenarnya apa yang ingin kamu buktikan Olivia? Kamu sedang melarikan diri dari apa?”

Hh……Aninda, sahabatku yang selalu mudah ditebak, kali ini aku tidak bisa menyiapkan jawaban apa-apa.

Begitulah aku kehilangan kedua sahabatku. Sahabat yang mengenalku paling lama. Saudara yang sebelumnya tidak pernah aku punya.

Aku kembali memusatkan perhatianku pada jalan yang kulewati. Aku sedang melewati rumah Gandi. Sahabatku yang lain, yang tidak bisa menemuiku malam ini karena sedang sakit. Kuketik sms:

“Gandi, aku pindah sekolah besok. Cepat sembuh ya….”

Sms delivered.

Hujan tidak lagi gerimis. Aku mulai berjalan lebih cepat. Aku mulai lelah. Tapi biar saja. Aku ingin merasakan lelahnya. Aku ingin langsung tertidur karena kelelahan dan tidak bermimpi apa-apa.

Pergi adalah satu-satunya jalan yang kelihatannya paling mungkin untukku saat ini. Ketika hidupku sepertinya runtuh di sekelilingku. Dan aku tidak pernah bilang ini mudah.

Besok aku akan pergi. Meninggalkan semua sahabat.

Dan Bapak.

Hhh…..bagaimana melukiskan apa yang kurasakan pada sosok itu? Orang asing yang dengan susah payah berusaha kukenal beberapa tahun ini. Bukan karena bapak tidak pernah ada. Melainkan karena bapak tidak pernah terlalu dekat. Lalu Ibu pergi. Kami berdua kebingungan bagaimana harus saling menyayangi. Akhirnya kami hanya saling menyakiti.

Dan aku ingin mengakhiri itu semua. Tidak mudah.

Dan Danish, Anin, dan Gandi tidak perlu tahu itu.



*catatan jaman dulu kala yang baru ketemu tadi :p