Minggu, 31 Mei 2009
"forgiven.....but not forgotten"
tapi tak sebenar-benarnya berlari
puing yang kutinggalkan,
repihannya akan terus mengikuti
bersama bayang-bayang tawa dari masa lalu
yang kelam"
sebuah puisi dari masa lalu yang terlupakan. well, sesuatu dari masa lalu memang bisa datang lagi, tidak peduli sudah sejauh mana kamu pergi darinya. tapi kali ini bukan cuma "mengikuti", tapi datang seperti raksasa yang menghancurkan sebuah bangunan hanya dengan menjepitnya diantara jempol dan telunjuk.
bangunan itu aku. dan aku hancur luluh. bukannya sedih, melainkan marah. aku amat sangat marah.
aku pernah baca sebuah kalimat klise "dia terbakar dalam kemarahannya". Yang bikin kalimat itu memang tidak main-main. aku terbakar penuh kebencian sekarang. ada sampah yang perlu dibakar? dekatkan saja pada wajahku...
untitled
"semua itu hanyalah debu!"
tapi aku tak mau kehilangan
kuraup semua ke dalam tanganku
dan begitu kubuka genggamanku,
bukan debu…
melainkan kupu-kupu yang terbang menuju langit
ah…segalanya begitu indah
lalu tiba-tiba aku tidak ingat lagi cara menyembunyikan
air mata…
speechless (190408)
"when you feel so tired
but you can’t sleep…"
(coldplay, fix you)
pernah ga merasa seperti itu? ketika tulang-tulangmu serasa remuk tapi kamu belum juga bisa tidur… well, aku sering merasa seperti itu. Tapi semalam…belum pernah aku merasakan momen yang seorisinal itu. Dan aku…yang bertahun-tahun lalu begitu gengsi mengucapkan kata "help me", akhirnya mengucapkannya (lewat sms tentu saja, karena aku kini berada amat sangat jauh dari orang-orang yang kutahu akan menolongku dengan segenap hati - dan yang begitu terburu-buru kutinggalkan ketika itu).
Then I know…bahwa tidak henti-hentinya sahabat-sahabatku membuatku begitu bersyukur….
aku hanya perlu mengetik ini:
"…belum pernh aku merasakan momen seorisinal ini. selama ini aku sll menikmati semuanya, mencari maknanya, walaupun melelahkan. tp skrg, semuanya terasa begitu menekan and I’m just so tired… help me….krn pd akhirnya pil tidur tidak lagi berguna, krn pada akhirnya akan ada saat ketika aku merasa harus bertanya; kenapa? dan untuk apa?…"
dan betapa menakjubkannya balasan yang kuterima:
"nov…sesuatu yang memiliki arti besar, memang layak untuk diperjuangkan, aplg bl itu mampu membuat org lain bangga mengenal atau dekat dg kita.
hanya org2 yg merasa sendirilah yg sharusnya takut dan jemu untuk hidup, krn kamu, saya, muggle, dan beberapa org lain tidak pernh sendiri, btapapun kerasnya hidup dan jauhnya kita.
ingat dan katakan : you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one…
cari tau siapa dirimu dan lakukan itu dg sengaja… kita mmg sering bertanya, Nov, dan bahkan b’harap dpt segera mlihat akhirnya agar tak perlu jauh melangkah. tp bisakah kt mrasakan b’harganya sbuah akhir tanpa mrasakan p’juangan?
…lalu tanyakan kenapa?
karena kita mampu merasakan dan kita mampu mengerti…"
betapa melegakannya ketika sesekali kita membiarkan diri kita ditolong…(coz somehow..its so hard to say "help me")
Sabtu, 23 Mei 2009
Another moment
Ketika seluruh tubuh terasa teramat letih tapi tidak bisa tidur.
Aku benci saat-saat seperti itu. Hanya akan memaksaku memikirkan hal-hal yang seharusnya kulupakan. Yang seharusnya tidak kupikirkan...
Jadi aku bangkit dan mengambil CTM terakhirku, membaringkan tubuh sambil menunggu efek samping obat itu: mengantuk. Tapi tidak juga mengantuk.
Jadi kubiarkan saja pikiranku melayang sekalian. Biar saja!!!
Sudah dua hari sebelumnya aku ingin sekali menelepon Bapak. Berkali-kali telah kususun konsepnya:
“assalamu alaikum. Pak, ngapain ki? Bagaimana kabar ta?”
Atau
“Pak, baik-baik jki? Sama siapa di rumah? Sudah makan? Makan apa?”
Atau
“Pak,habis uangku… hehe… tidak ji, cuma becanda. Saya lagi stress ini Pak, banya tugas. Baik-baik jki?”
Tapi selalu saja tidak kulakukan. Menelepon maksudku. Karena begitu susah rasanya menekan tombol 5 di handphone yang langsung menghubungkanku dengan bapak. Hh…begitu susahnya hanya berbicara dengan bapak…
Rasanya ingin menangis, sungguh. Tapi sudah lama sejak aku berjanji untuk tidak menangis lagi.
Jadi aku mengambil handphone dan – bukannya menelepon bapak – aku mengirim sms ke Men.
“hai men, ngapain?”
“hai nov, baru plg krj nih, lembur lg. Lapr,mw mkn dl.”
“men…mnurutmu knapa sy susah skl bicara sm Bapak? Jawab kl km sdh kenyang sj.”
“ng….sy mkan dl ya nov.”
“eh iya men… ng… sbnrx sy jg takut dengar jawabn km. Jd abis km blas sy nda blas2 lg ya…”
Message pending.
Hh…
Did I say something wrong?
Karena Men tidak membalas sms-ku lagi. Betul-betul tidak ada lagi. Sangat tidak biasanya.
Apakah karena aku terlalu pengecut dan Men sudah terlalu muak?
Akhirnya aku tertidur…
Besoknya..
Besoknya lagi…
Dan besoknya lagi….
…
Bulan berikunya
Bulan berikutnya lagi…
Dan bulan berikutnya lagi…
Tidak ada kabar dari Men. Padahal aku merindukan semua quotation-quotationnya yang ajaib….
Moment-moment seperti itu datang lagi seperti teman lama. Aku tidak meminum CTM lagi. Aku menangis jika aku ingin menangis. Apa salahnya sih?
Aku menelepon bapak akhirnya. Beberapa kali. Minta duit jadinya, seolah-olah bapak hanya bankir pribadiku.
Tetap tidak ada kabar dari Men. Dan aku terlalu pengecut untuk menelepon dan bertanya kenapa…..
Rabu, 13 Mei 2009
210409
Buat Ibu
Aku sedang mereka-reka wajahmu… lewat gambaranku dalam cermin.
Mengira-ngira….
Berapa tahun sekarang? Delapan?
Hh…. Betapa kenangan begitu cepat berlalu seperti air dalam genggaman.
Wajah itukah – yang serupa denganmu – yang membuat bapak begitu enggan bicara denganku? Karena teringat dirimu? Benarkah semirip itu? Orang-orang bahkan bisa menebak siapa ibuku dengan tepat hanya dengan melihat leherku!
Aku lupa, dan itu membuatku malu pada diriku sendiri. Dan sedih. Karena betapapun itu menyedihkan, akan tetap menentramkan jika aku bisa terus mengingatmu dengan baik, setiap detail.
Begitu sulit mengingatmu sedang tertawa. Pernahkah ibu tertawa di masa-masa itu?
Oh…aku ingat sekarang. Ibu pernah tertawa karena aku. Aku ingat setiap detail peristiwanya tetapi lupa bagaimana ekspresimu waktu itu. Apakah wajahmu mengerut membentuk garis di sekeliling mata dan bibirmu? Seperti apakah suara tawamu? Apakah seperti tawaku?
Maaf karena aku lupa…..
Maafkan anakmu…………..
Miss U……..
Baik-baik di sisiNya ya….