Sabtu, 23 Mei 2009

Another moment

Lagi-lagi moment itu…
Ketika seluruh tubuh terasa teramat letih tapi tidak bisa tidur.
Aku benci saat-saat seperti itu. Hanya akan memaksaku memikirkan hal-hal yang seharusnya kulupakan. Yang seharusnya tidak kupikirkan...
Jadi aku bangkit dan mengambil CTM terakhirku, membaringkan tubuh sambil menunggu efek samping obat itu: mengantuk. Tapi tidak juga mengantuk.
Jadi kubiarkan saja pikiranku melayang sekalian. Biar saja!!!
Sudah dua hari sebelumnya aku ingin sekali menelepon Bapak. Berkali-kali telah kususun konsepnya:
“assalamu alaikum. Pak, ngapain ki? Bagaimana kabar ta?”
Atau
“Pak, baik-baik jki? Sama siapa di rumah? Sudah makan? Makan apa?”
Atau
“Pak,habis uangku… hehe… tidak ji, cuma becanda. Saya lagi stress ini Pak, banya tugas. Baik-baik jki?”
Tapi selalu saja tidak kulakukan. Menelepon maksudku. Karena begitu susah rasanya menekan tombol 5 di handphone yang langsung menghubungkanku dengan bapak. Hh…begitu susahnya hanya berbicara dengan bapak…
Rasanya ingin menangis, sungguh. Tapi sudah lama sejak aku berjanji untuk tidak menangis lagi.
Jadi aku mengambil handphone dan – bukannya menelepon bapak – aku mengirim sms ke Men.
“hai men, ngapain?”
“hai nov, baru plg krj nih, lembur lg. Lapr,mw mkn dl.”
“men…mnurutmu knapa sy susah skl bicara sm Bapak? Jawab kl km sdh kenyang sj.”
“ng….sy mkan dl ya nov.”
“eh iya men… ng… sbnrx sy jg takut dengar jawabn km. Jd abis km blas sy nda blas2 lg ya…”
Message pending.
Hh…
Did I say something wrong?
Karena Men tidak membalas sms-ku lagi. Betul-betul tidak ada lagi. Sangat tidak biasanya.
Apakah karena aku terlalu pengecut dan Men sudah terlalu muak?
Akhirnya aku tertidur…
Besoknya..
Besoknya lagi…
Dan besoknya lagi….

Bulan berikunya
Bulan berikutnya lagi…
Dan bulan berikutnya lagi…
Tidak ada kabar dari Men. Padahal aku merindukan semua quotation-quotationnya yang ajaib….
Moment-moment seperti itu datang lagi seperti teman lama. Aku tidak meminum CTM lagi. Aku menangis jika aku ingin menangis. Apa salahnya sih?
Aku menelepon bapak akhirnya. Beberapa kali. Minta duit jadinya, seolah-olah bapak hanya bankir pribadiku.
Tetap tidak ada kabar dari Men. Dan aku terlalu pengecut untuk menelepon dan bertanya kenapa…..

0 comments:

Poskan Komentar