Olivia
Satu-satu air hujan jatuh menerpa kulitku. Aku memejamkan mata. Merasakan sejuknya, dinginnya. Seolah semua saraf di kulitku serentak menyiapkan diri untuk menerimanya. Setiap tetes.
Kamu yang selalu mengeluhkan dinginnya udara ketika musim hujan, tidak tahu ini: hujan benar-benar menenangkan. Kamu hanya tidak pernah tinggal cukup lama untuk bisa merasakannnya. Sedangkan aku….aku sudah tahu itu sejak lama. Jadi aku tidak pernah melewatkan hujan seperti ini. Terutama ketika aku benar-benar membutuhkannya seperti saat ini.
Aku mulai melangkah. Sudah hampir jam sepuluh malam dan kota kecil ini sudah hampir mati. Sekolah ini dan rumahku berada di sisi kota yang berlawanan. Tapi sekali lagi, ini hanya kota kecil, jadi itu bukan jarak yang jauh. Lagi pula aku ingin merasakan lelahnya. Merasakan satu kaki menjejak di tanah, sementara kaki yang lain terangkat dan terayun ke depan lalu menapak lagi di tanah. One step done!
Kupusatkan perhatianku pada bunyi hujan. Pada gelapnya malam. Pada jalan yang basah di bawah kakiku. Setiap jengkal. Hanya agar aku tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tapi tetap saja…..
“Aku akan pindah sekolah.”
“Besok.” Sambungku ketika tidak ada yang menanggapi pengumumanku.
“Tapi kita udah kelas tiga, Liv.” Aninda protes. Aku sudah menduga dia akan mengatakan itu.
“Justru itu. Aku pengen ikutan bimbingan belajar di sana. Di sini ga ada. Aku harus lulus. Aku harus kuliah.”
“Hh…don’t make any excuses! Kaya kami ga pengen lulus aja.” Akhirnya Danisha bersuara. “Kamu ga pernah merasa cukup kan, Vi?” ada senyum sinis di wajahnya.
Aku mulai merasa ada yang salah. Ini bukan skenario yang ada di kepalaku tentang saat “perpisahan mendadak” ini.
“Yah…aku kira memang tinggal tunggu waktu aja sebelum kita semua ga saling peduli lagi. Kan kamu yang duluan Dan!” itu Anin yang bicara.
Danisha menarik nafas sebelum mulai menjawab. “Jadi udah jelas kan? Sekalian aja kita pura-pura ga saling kenal lagi. Beres.” Dia bangkit, lalu berkata “Aku udah harus pulang”
Danish mulai melangkah pergi. Aku panik. Aku berusaha keras memasukkan udara ke paru-paruku. Sampai aku bisa berkata, agak lebih keras dari yang aku inginkan,
“Tapi kita harus ketemu lagi. Untuk membuktikan kalau ini semua worth it. Lima tahun? Sepuluh tahun?”
“Aku akan ingat.” Sahut Danish tanpa menoleh. Apa yang disetujuinya? Lima, sepuluh? Apa?
“Good luck Vi!”
Tinggal aku dan Anin. Sesaat mata kami bertemu. Dia membuang muka dan berdiri. Aku memperhatikannya melangkah pergi. Tapi kemudian dia berhenti dan menoleh.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu buktikan Olivia? Kamu sedang melarikan diri dari apa?”
Hh……Aninda, sahabatku yang selalu mudah ditebak, kali ini aku tidak bisa menyiapkan jawaban apa-apa.
Begitulah aku kehilangan kedua sahabatku. Sahabat yang mengenalku paling lama. Saudara yang sebelumnya tidak pernah aku punya.
Aku kembali memusatkan perhatianku pada jalan yang kulewati. Aku sedang melewati rumah Gandi. Sahabatku yang lain, yang tidak bisa menemuiku malam ini karena sedang sakit. Kuketik sms:
“Gandi, aku pindah sekolah besok. Cepat sembuh ya….”
Sms delivered.
Hujan tidak lagi gerimis. Aku mulai berjalan lebih cepat. Aku mulai lelah. Tapi biar saja. Aku ingin merasakan lelahnya. Aku ingin langsung tertidur karena kelelahan dan tidak bermimpi apa-apa.
Pergi adalah satu-satunya jalan yang kelihatannya paling mungkin untukku saat ini. Ketika hidupku sepertinya runtuh di sekelilingku. Dan aku tidak pernah bilang ini mudah.
Besok aku akan pergi. Meninggalkan semua sahabat.
Dan Bapak.
Hhh…..bagaimana melukiskan apa yang kurasakan pada sosok itu? Orang asing yang dengan susah payah berusaha kukenal beberapa tahun ini. Bukan karena bapak tidak pernah ada. Melainkan karena bapak tidak pernah terlalu dekat. Lalu Ibu pergi. Kami berdua kebingungan bagaimana harus saling menyayangi. Akhirnya kami hanya saling menyakiti.
Dan aku ingin mengakhiri itu semua. Tidak mudah.
Dan Danish, Anin, dan Gandi tidak perlu tahu itu.
*catatan jaman dulu kala yang baru ketemu tadi :p
Wow...I almost forgot how I use to admire you're write..
BalasHapuskeep writing..
hei...thanks :)
BalasHapus